Ulasan Film Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss!

ADA SPOILER!

Akhirnya sampai juga pada kesempatan saya untuk menulis lagi sejak sekian lama, bersamaan dengan kesempatan saya untuk kembali menikmati Film Indonesia di bioskop. Untuk merayakannya saya membuat sebuah ulasan ini, atau kritikan, saran, atau apapun itu namanya. Sebagai bentuk apresiasi tertinggi saya kepada sineas Indonesia, yang menjadikan film sebagai sarana perjuangan ide. Mencerdaskan masyarakat, Menghibur serta mendidik.

Film yang saya toton adalah Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss, besutan seorang sutradara yang sedang naik daun, Anggy Umbara. Ini adalah film keduanya  yang saya tonton setelah film 3 (alif lam mim). Saya sangat menikmati menonton film tersebut, dan saya sangat merekomendasiknnya. Anggy Umbara sendiri telah menyutradarai banyak film-film laris tanah air seperti Mama Cake (2012), Comic 8 (2014), Comic 8 : Casino Kings (2015), dll. Saya suka gayanya dalam membangun cerita dan dialog.

Tentunya kita tahu bahwa film ini adalah film remake dari serial legenda Warkop DKI yang dibintangi Dono Kasino Indro. Film Warkop DKI sendiri pertama kali ditayangkan di Bioskop Indonesia pada tahun 1979 dengan judul Mana Tahan. Selanjutnya hingga tahun 90-an film-film warkop kerap kali menghiasi layar bisokop dan layar TV tanah air. Serial ini yang kemudian di-remake menjadi Warkop DKI Reborn dengan tujuan melestarikan karakter Dono-Kasino-Indro (DKI), seperti disampaikan Om Indro pada wawancara di channel youtube resmi falcon pictures . Om Indro pun ikut turut serta dalam pembuatan film ini. Selain untuk memberi warna, juga untuk menjaga kemiripan karakter Warkop DKI Reborn dengan Warkop DKI yang telah lama dikenal masyarakat Indonesia.

Film berdurasi 100 menit ini dibintangi oleh banyak pemain papan atas perfilman Indonesia dan komika-komika tanah air. Ada Abimana Aryasatya yang berperan sebagai Dono, Vino G. Bastian sebagai Kasino, dan Tora Sudiro sebagai Indro. Berasama mereka juga hadir Tarzan yang memerankan Pakde Dono, Agus Kuncoro, Henky Solaiman, Mongol, Fico, Arie Kriting, dan masih banyak bintang-bintang lainnya.

Film ini bercerita tentang trio Dono-Kasino-Indro yang sedang bekerja di dalam sebuah lembaga swasta bernama CHIPS. Lembaga seperti polisi yang bertugas untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah sosial-kriminal di tengah masyarakat. Mereka bertiga adalah petugas CHIPS yang baik dan penuh semangat namun sering tertimpa kesialan saat bertugas. Kesialan- kesialan yang membuat bos CHIPS kesal hingga memberikan mereka suatu misi khusus. Mereka ditugasi untuk menyelidiki fenomena begal motor yang marak terjadi,  bersama seorang anggota cantik dari CHIPS cabang Prancis bernama Sophie. Saat menjalani penyelidikan lagi-lagi mereka bertiga tertimpa suatu kesialan yang membuat mereka harus membayar denda ganti rugi sebesar 8 milyar rupiah. Mulailah trio DKI bersama Sophie memutar otak mencari cara untuk membayar denda ganti rugi tersebut.

chips-warkop

Film dengan judul yang sama (CHIPS) dimainkan oleh Warkop DKI tahun 1982

Hal pertama yang sangat saya apresiasi dari film ini adalah karakter. Menurut saya film ini berhasil membawa karakter trio Dono Kasino Indro ke era modern dengan komedi slapsticknya yang khas. Sejak pertama kali trailer film ini dipromosikan, karakter memang menjadi magnet kuat buat penonton tanah air yang ingin bernostalgia.

Salah satu kekuatan dari karakter Dono Kasino Indro adalah visual comedy terutama pada ekspresi wajah dan ekspresi tubuh saat melakukan sebuah adegan komedi. Dan saya rasa Abimana, Vino, serta Tora benar-benar berhasil melakukannya. Saya sampai lupa bahwa yang saya lihat adalah pemain-pemain film yang sudah tak asing lagi di dunia perfilman tanah air. Kemudian dedikasi, para pemain sangat berdedikasi untuk melestarikan karakter trio DKI. Mulai dari penyesuaian logat bicara seperti Dono yang khas Jawa, Kasino yang Banyumas-Betawi, dan Indro yang medan, hingga penyesuaian fisik seperti pemakaian gigi palsu dan perut-buncit palsu.

Karakter berikutnya yang di atas ekspektasi saya adalah Om Indro. Di film ini Om Indro berperan sebagai perwakilan isi hati dan pikiran Indro muda (Tora Sudiro). Om Indro super lucu membawakan berbagai macam karakter mulai dari minion hingga Katy Perry yang merupakan bagian dari isi kepala Indro muda, ditambah lagi properti yang sangat konyol memberi kesan untuk karakter Om Indro.

Hal yang juga sangat menonjol dari film ini adalah efek suara (sound effect). Menurut saya ada sebuah kesulitan tersendiri untuk membuat efek suara pada film komedi. Bagaimana menyesuaikan sebuah efek suara terhadap adegan agar menambah faktor kekonyolan dari film. Dan film ini saya rasa sangat berhasil melakukannya. Selain efek suara ada beberapa soundtrack khas warkop yang dinyanyikan langsung oleh para pemain Warkop Reborn, ikut serta menambah keberhasilan faktor musik dalam film ini.

Berbicara aspek komedi, film ini benar-benar lucu. Saya bukan tipe orang yang mudah tertawa dari sebuah film, namun Warkop DKI Reborn berberapa kali berhasil memberikan tawa yang lepas bagi saya dan penonton yang lain. Tertawa dari berbagai tipe adegan sketsa yang sangat imajinatif dan penuh kejutan serta dari komedi one-liner yang sangat cerdas. Berulang kali saya tertawa dan harus mengakui film ini benar-benar lucu. Sebuah syarat utama film komedi.

Sebelum saya membahas lebih lanjut, perlu diingat bahwa Wrkop DKI Reborn mengikuti leluhurnya adalah sebuah film komedi slapstick dengan konten yang satir. Contoh film-film komedi slapstick yang telah terkenal antara lain Ace Ventura, Charlie Chaplin, Mr. Bean, Pink Panther, Dumb and Dumber, dan The Gods Must Be Crazy. Film komedi slapstick mempunyai ciri khas lebih menonjolkan komedi fisik seperti orang jatuh kesungai, terpleset, tertimpa atap, bahasa hinaan atau sindiran, ketimbang dialog atau pengembangan karakter serta plot. Jangan kaget jika ada banyak komedi rated-R (dewasa) dari sebuah film slapstick. Juga jangan kaget ketika ada adegan-adegan yang terlalu imajinatif dalam film genre ini. Kemudian untuk urusan satir, kita tahu bersama bahwa film warkop DKI memang punya ciri khas secara implisit maupun ekplisit menghadirkan kritik-kritikan sosial yang dekat dengan masyarakat.

Saya sangat menikmati 20 hingga 30 menit pertama sejak film ini dimulai. Ada sebuah usaha untuk menampilkan pengenalan/introduction yang khas tempo dulu, dan usaha itu berhasil. Juga keberhasilan yang lain adalah menjembatani Warkop DKI Reborn dengan Warkop DKI di memori penonton pada fase pengenalan. Serta keberhasilan membuat penonton tak henti tertawa dari awal film. Ada musik yang khas serta satir yang jelas, sangat-sangat nostalgic. Hanya satu catatan saya di menit-menit pertama yaitu timing sesi komedi berita yang dibawakan oleh Om Indro sedikit kurang pas, terlepas dari kontennya yang super lucu.

“Komedi itu serius” -Indro Warkop

Setelah 20-30 menit pertama yang mengasyikkan saya mulai banyak menaruh catatan/kritikan. Saya mendapat kesan ada beban yang berat untuk melestarikan sebuah hal yang telah menjadi legenda. Ada pertimbangan berat yang saya lihat dari sisi pembuat alur antara memilih mengembangkan konten yang baru atau kembali membawa konten yang lama agar penonton merasa nyaman dan mungkin berkata “Wah iya, mirip banget ya sama film warkop zaman dulu”.

Ketika saya pertama kali melihat trailer film ini, ada hal yang saya sukai yaitu dialog-dialog yang dimainkan mewakili judul-judul film warkop sebelumnya seperti “dongkrak antik”, “setan kredit”, “gengsi dong”, dan lain-lain. Awalnya saya berpikir sangat cerdas untuk membangun sebuah dialog cerita baru sambil menyisipkan referensi-referensi yang mengingatkan penonton kepada kekhasan cerita lama. Namun ternyata apa yang saya lihat di trailer, seperti itu juga yang saya lihat di film, tidak ada pengembangan. Hanya seperti rangkaian trailer panjang yang bahkan di beberapa titik tidak lucu, penempatan dialog pun kerap kali terkesan dipaksakan sehingga menghasilkan momen-momen tertawa awkward di tengah para penonton. Warkop DKI Reborn seperti mencoba menghidupkan kembali isitilah-istilah lucu khas warkop dki, akan tetapi meninggalkan kelucuan di balik istilah-istilah tersebut.

Hal kedua yang membuat saya terganggu adalah alur cerita. Saya mengerti bahwa sebuah film komedi slapstick memang tidak dibuat untuk menonjolkan alur cerita, namun ada batasan ketika hal tersebut malah mengurangi kenikamatan penonton. Beberapa kali ada bagian alur cerita yang seperti terlupakan begitu saja sehingga menimbulkan pertanyaan “mau dibawa kemana cerita ini, dan bagaimana dengan cerita yang tadi?” Ditambah lagi ada beberapa kejadian minor yang hadir hanya untuk mengubah alur cerita secara keseluruhan.

Hal ketiga adalah soal karakter, walau di awal tadi saya menyebutkan keunggulan film ini dari sisi menghidupkan kembali kekhasan karater trio warkop DKI, namun masih ada beberapa catatan. Hal yang menganggu saya adalah karakter sikap, saya sulit membedakan karakter sikap Kasino denga Indro, selain bahwa Kasino lebih sering menjadi karakter utama yang membawa alur cerita. Kemudian konsistensi karakter sikap Dono terutama ketika berhadapan dengan wanita. Di satu adegan digambarkan Dono adalah pria yang polos, akan tetapi di adegan lain digambarkan Dono sebagi pria yang suka jahil dan suka menggombal seperti Kasino dan Indro. Entah kenapa film Warkop DKI zaman dulu lebih berhasil menegaskan perbedaan karakter sikap antara Dono, Kasino, dan Indro.

Hal keempat adalah soal latar waktu. Saya bingung apakah film Warkop DKI Reborn ini disetting pada zaman sekarang atau zaman dulu. Di sepanjang film ini juga tidak disebutkan referensi tahun, tapi bukan itu yang mengganggu. Hal yang mengganggu adalah inkonsistensi. Di satu sisi dari referensi teknologi dan beberapa referensi budaya pop, kita tahu film ini disetting di zaman modern. Minimal di tahun ketika Katy Perry telah dikenal oleh masyarakat dunia. Namun dari pemilihan gaya berpakaian, kendaraan, arsitektur rumah kontrakan trio DKI, hingga bahasa gaul yang digunakan membuat kita yakin film ini mempunyai setting latar waktu zaman dulu, era 80 atau 90-an. Akan lebih baik saya rasa jika ada suatu referensi latar waktu yang jelas.

Hal kelima adalah soal break the 4th wall. Adalah ketika karakter dalam film berbicara langsung kepada  penonton atau memakai referensi dengan kesadaran sebagai seorang aktor bukan sebagai karakter yang diperankan. Beberapa kali Indro melakukannya dalam film ini untuk urusan berbicara dengan referensi sebagai seorang akor yang sedang syuting film, bukan sebagai karakter dalam film itu sendiri. Om Indro sebagai karakter pikiran Indro muda juga memakai hal ini untuk berbicara langsung kepada penonton. Break the 4th wall ketika ditempatkan dengan tepat bisa sangat lucu seperti di film Deadpool. Namun sayangnya untuk film ini justru cenderung menimbulkan kebingungan pada penonton, walau ada satu atau dua adegan yang masih lucu. Mungkin saya lupa, tapi seingat saya film warkop DKI zaman dulu tidak pernah memakai teknik ini kecuali pada closing.

Hal keenam adalah soal satir. Di awal-awal dan di beberapa bagian film saya sangat menikmati satir yang ditampilkan, baik dalam bentuk adegan film atau potongan dokumentasi terhadap fenomena masyarakat. Namun ada hal yang mengganggu yaitu ketika satir disampaikan dalam bentuk dialog atau visual yang terlalu eksplisit. Kritik-kritik terhadap budaya korupsi, nilai moral, kasus hambalang, dan  lain-lain kadang malah tidak terlalu tersampaikan karena cara pembawaan yang kurang implisit, kurang halus. Menurut saya contoh yang bagus adalah film-film yang disutradarai oleh deddy mizwar, walaupun film-film deddy mizwar mungkin belum masuk kategori genre komedi slapstick. Nagabonar 2, Alangkah Lucunya Negri ini,  sinetron Kiamat Sudah Dekat adalah beberapa contoh cara pengemasan konten satir ke dalam adegan komedi yang cerdas. Mungkin dalam pembuatan seri kedua nanti Anggy Umbara perlu mengajak serta Wakil Gubernur Jawa Barat ini.

Kedua? Iya benar, hal terakhir yang saya catat sekaligus sebagai hal yang paling menganggu adalah fakta bahwa film ini hanya merupakan bagian pertama dari sebuah sequel Warkop DKI Reborn. Ditambah lagi teknik pemotongan dan closing yang dilakukan di akhir film menurut saya agak kasar, sehingga selain menciptakan rasa penasaran bagi penonton untuk menanti part 2, juga menghadirkan kebingungan dan sedikit kekesalan (curhat). Bahkan ketika film berakhir saya sampai berulang kali harus mengecek jam di layar HP untuk memastikan bahwa film ini memang benar telah usai.

Terakhir sedikit tentang sinematografi, teknik pemotongan yang digunakan serta jangakauan pengambilan gambar memang mengingatkan saya akan film warkop DKI zaman dulu, namun entah kenapa bagi saya teknik yang dipakai beberapa kali menimbulkan kesan “murah” khas acara komedi sketsa di TV. Kemudian yang perlu saya apresiasi adalah soal CGI  dan properti yang digunakan. Rasanya kualitas CGI dan propertinya seperti film action, padahal komedi. Terutama ketika bagian aksi kejar-kejaran mobil.

Secara keseluruhan film ini adalah film yang bagus dan sangat memberi harapan bagi masa depan Perfilman Indonesia. Film yang bagus harus diberi kritik yang detail. Harapan saya semoga film Warkop DKI Reborn part 2 bisa jauh lebih baik, Warkop DKI bisa terus lestari, Anggy Umbara terus berkarya, Falcon pictures semoga mau terus menghadirkan film-film mendidik, dan semoga film-film Indonesia semakin banyak peminatnya.

Film Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss! mendapat nilai 3 dari skala 5

nb : humornya dewasa, jadi anak-anak ga boleh nonton dulu

 

 

Unknown

Kita tentu pernah bertanya tentang suatu hal, tentang sesuatu yang tidak kita ketahui. Hal-hal tersebut berada dalam satu lemari bernama ketidaktahuan. Di sisi lain, hal-hal yang kita ketahui tersimpan dalam lemari yang bernama pengetahuan. Sejak awal(kapan awal itu), kita tidak pernah melihat kedua lemari dalam kondisi benar-benar kosong. Mungkin ada suatu saat dimana lemari pengetahuan itu kosong, tapi di saat itu lemari ketidaktahuan memiliki hal di dalamnya. Kemudian kita memindahkan beberapa hal dari lemari ketidaktahuan kedalam lemari pengetahuan.

Kadang hal itu pindah dari satu lemari ke lemari yang lain secara ajaib. Terkadang hal yang telah kita pindahkan dari lemari ketidaktahuan ke lemari pengetahuan berpindah kembali ke lemari ketidaktahuan, atau sebaliknya. Kita juga tidak tahu apakah total isi dari kedua lemari selalu sama atau bertambah, atau berkurang? Kita hanya tahu kedua lemari tidak pernah benar-benar kosong.

Di dalam lemari pengetahuan ada beberapa hal yang terlihat abstrak. Ia kita sebut dengan simbol, hal yang tidak benar-benar kita tahu. Maksud saya kita hanya mengetahui soal simbol itu ada, tapi tidak tahu tentang esensinya. Simbol itu memiliki tali dan terikat ke dalam hal lain di dalam lemari ketidaktahuan. Suatu simbol biasanya terikat pada suatu hal. Kadang dua simbol terikat pada hal yang sama, namun tidak ada satu simbol yang terikat pada dua hal yang berbeda.

Kita kemudian menelusuri tali itu untuk menemukan hal yang diikatnya. Hal itu yang kita keluarkan dari lemari ketidaktahuan untuk kita pidahkan ke lemari pengetahuan. Itulah satu-satunya cara kita memindahkan hal dari satu lemari ke lemari yang lain.

Asap dan ketamakan

Tidak ada kalimat pembuka yang tepat, tidak ada kata-kata pemanis, asap telah memakan langit sumatera, kalimantan. Setiap detiknya jutaan nyawa manusia mengambang di udara antara ingin atau tak ingin meninggalkan dunia.

Terlalu jahat menjadikan bencana sebagai landasan menyerang dalam panggung politik. Siapakah yang kau bela sebenarnya? Nyawa atau ketakaman pada dirimu yang sepekat asap. Asap bermula dari ketamakan, jangan kobarkan lagi ketamakan itu.

Pada keadaan darurat, pada kondisi yang genting, kita hanya memiliki satu sama lain untuk bertahan. Saat-saat ini adalah saat nasionalisme kita diuji secara nyata. Lebih dalam dari nyanyian, nasionalisme kita adalah tentang cinta kepada orang-orangnya. Manusia Indonesia.

Banyak yang bisa kita lakukan seperti memberi bantuan langsung, menyebarkan kegelisahan yang sama, membantu lewat doa, dan yang lainnya. Kita bisa memberikan apapun itu dan setidaknya pesan kepada generasi penerus untuk berhenti membakar hutan, mengobarkan asap.

Sebuah Pembicaraan

Sekarang aku seperti mengerti semuanya
Tentang pandangan yang berbeda yang lahir dari iman yang berbeda
Walau dengan akal yang sama, kita bisa saja terbutakan
Aku sempat tidak bisa melihat terang

Dengan alasan yang lain aku ingin mengatakan bahwa aku malu
Malu menjadi yang lain dari apa yang dunia ini inginkan
Tapi setan punya dua tipu daya pada setiap godaannya
Dua tipu daya yang saling mengikat

Aku ingin berbicara seperti Ali kepada Thalhah

Sesudah menyeka air mata, ‘Ali menggenggam jemari Thalhah dan menatap dalam ke wajahnya. Dengan menghela nafas, ‘Ali mencoba menyusun kata. “Ingatkah engkau hai Thalhah, mengapa Allah turunkan ayat tentang hijab bagi isteri Nabi dan mengapa Dia melarang kita untuk menikahi janda beliau?”

Thalhah terisak. Dadanya bergemuruh oleh malu dan sesal. Bahu kekarnya bergeletar.

‘Ali menepuk bahu Thalhah. “Ya”, katanya sambil mengalihkan pandangan, tak sanggup melihat tercabiknya batin Thalhah oleh kata-katanya. Tapi demi perdamaian dan persatuan kembali kaum Muslimin, ‘Ali mau tak mau harus mengatakan ini. Ia menguatkan hati. “Ayat itu turun karena maksud hati dan ucapanmu untuk menikahi ‘Aisyah.”

‘Ali meraba reaksi Thalhah. Lalu Ia melanjutkan sambil menatap tajam pada sahabatnya itu. “Dan kini sesudah beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam benar-benar wafat, mengapa engkau justru membawa ‘Aisyah keluar dari hijabnya dan mengajaknya mengendarai unta dan berperang di sisimu?” (http://salimafillah.com/sebuah-kenangan-atas-cinta/)

Dan kita yang dulu bersatu
Semoga tetap bersatu
Di atas dunia yang adalah penjara
Semoga adalah penjara untuk kita

Hasil dan Proses

“Apa yang lebih penting bagimu? Hasil atau proses?”

Pertanyaan ini terus saja ada dalam hidup Saya dengan rupa yang berbeda-beda. Saya rasa pertanyaan itu juga ada dalam hidup seluruh manusia. Apakah proses pencarian atau hasil temuan yang akan menentukan kesuksesan perjalanan kita? Apakah proses usaha atau hasil kesuksesan yang menentukan kualitas hidup kita? Apakah proses untuk hidup atau kemuliaan pada kematian yang menentukan keindahan romansa kita di dunia?

Dalam bahasa matematis, sistem dan keluaran adalah dua hal yang tak terpisahkan. Dua sisi koin yang selalu berdampingan. Kita tidak bisa mengevaluasi sistem tanpa melihat hasil. Kita tidak bisa memiliki hasil tanpa menciptakan sistem. Sebuah proses, sebentuk harmoni.

Hanya jika ada yang bertanya “lantas bagaimana cara menilai suatu hal dengan objektif, apakah melalui prosesnya atau hasilnya?” Disini terkuak usilnya pemikiran manusia.

Pada suatu kejadian yang lampau Saya pernah bertemu dengan beberapa pertetangan ini. Di tempat Saya berkuliah ketika mahasiswa hendak menjadi sarjana, setiap calon wisudawan-wusadawati akan diminta untuk mengisi kuisioner dari departemen masing-masing. Salah satu pertanyaan yang sering ditanyakan adalah “Apakah anda pernah mencontek?”

“Sedikit sekali yang mengisi jawaban ‘iya’ padahal Saya tahu banyak diantara kalian yang pernah mencontek” Kata salah seorang dosen mengevaluasi hasil kuisioner di suatu ruang kelas. Ia heran mengapa kuisioner yang anonim itu tidak memberikan hasil sesuai dengan harapan. Mengapa para mahasiswa ini bahkan tidak mengakui “dosa” mereka secara sembunyi-sembunyi. Saya mengerti kekecewaannya. Bahwa mencontek itu perbuatan tercela, saya setuju. Bahwa integritas itu luntur dengan mencontek, saya juga setuju. Tapi kenapa di masih banyak mahasiswa yang mencontek? Mereka (mahasiswa) bukan orang yang kurang cerdas. Apa yang mereka harapkan? Tentu adalah hasil yang lebih baik. Entah itu dalam tugas ataupun ujian.

Hasil menjadi prioritas orang-orang yang mencontek ketimbang proses. Kenapa hal ini bisa terjadi? Saya rasa jawabannya telah terkandung dalam premisnya. Orang-orang yang mencontek lebih memilih hasil daripada proses karena mereka hidup dalam lingkungan yang lebih memilih hasil daripada proses. Tentu ada lingkungan yang seperti ini, pasar saham contohnya. Dalam dunia pasar saham, hasil atau keuntungan adalah segalanya. Kepiawaian seorang broker saham hanya akan diukur berdasarkan keuntungan yang ia bisa dapatkan, terlepas metode yang ia gunakan. Apakah Ia memang memahami dunia pasar saham, apakah ia memiliki wawasan ekonomi makro, atau ternyata ia hanya memilih stok saham berdasarkan takhayul, semua itu sama sekali bukan masalah. Dalam dunia perjudian, hasil sangat jauh lebih dipentingkan daripada proses. Anda bisa memakai jurus dewa judi manapun untuk menang. Walaupun bagi perusahaan-perusahaan casino “menghitung kartu” jelas adalah pelanggaran proses. Itu salah satu pengecualian. Sangat berbeda dalam dunia organisasi, proses lebih sering menjadi pemeran utama. Efisiensi sebuah proses sangat menentukan keberhasilan sebuah organisasi walaupun yang menjadi dorongan tetaplah hasil. Membingungkan memang, karena proses dan hasil benar-benar dua sisi mata koin yang berdampingan. Untuk urusan mencontek tadi saya coba untuk merevisi pertanyaannya. “Kenapa para mahasiswa itu hidup dalam dunia kuliah yang lebih menghargai hasil ketimbang proses?”.

Hasil memang lebih sering diutamakan daripada proses. Karena mengukur hasil jauh lebih mudah daripada mengukur proses. Tapi jika kita terlalu berkiblat kepada hasil tanpa memandang proses mendapatkan hasil tersebut, kita akan terjebak pada bias hasil (outcome fallacy). Rolf Dobelli menggambarkan fenomena ini dengan sebuah kisah yang menarik.

“Katakanlah satu juta monyet berspekulasi di bursa saham. Mereka membeli dan menjual saham seperti orang gila, dan tentu saja benar-benar secara acak. Apa yang terjadi? Setelah satu minggu, sekitar setengah dari monyet-monyet itu mendapatkan keuntungan dan setengah lagi merugi. Mereka yang mendapatkan keuntungan boleh tinggal; yang rugi akan dikirim pulang. Pada minggu kedua, setengah dari semua monyet masih akan untung sedangkan setengah yang lan akan mendapatkan kerugian dan dikirim pulang. Dan seterusnya. Setelah sepuluh minggu, tersisa sekitar seribu monyet — mereka uang selalu menginvestasikan uangnya dengan baik. Setelah dua puluh minggu, hanya akan ada satu monyet yang tersia —  yang satu ini selalu, tanpa gagal, memilih saham yang tepat dan saat ini menjadi miliarder. Mari memanggilnya monyet yang sukses” (The Art of Thingking Clearly, Rolf Dobelli).

Jika tidak diceritakan tentan proses terpilihnya monyet ini, tapi hanya dikisahkan tentang bagaimana seekor monyet bisa menjadi miliarder di pasar saham, maka dunia akan heboh. Jika berita monyet sukses ini masuk headline surat kabar pasti banyak yang mengira monyet betul-betul mahluk cerdas. Atau minimal, ilmuwan telah berhasil merekayasa monyet menjadi spesies dengan kecerdasan seperti manusia. Masyarakat akan cukup naif untuk percaya hal tersebut. Namun jika kisah monyet sukses itu diceritakan secara lengkap, bahwa monyet sukses itu hanyal satu keberuntungan dari satu juta maka tidak akan ada yang percaya seekor monyet bisa cukup cerdas untuk menjadi miliarder lantai pasar saham.

Kita sering melihat suatu hal hanya pada hasilnya, kesuksesannya. Wajar, karena kita memang hidup pada dunia yang lebih mempertimbangkan hasil ketimbang proses. Proses yang begitu rumit untuk kita ukur. Terlalu banyak variabel di dalamnya, kita lebih senang menyederhanakannya kedalam rangkaian hasil yang mudah untuk diukur.

Saya tidak mengatakan proses lebih penting ketimbang hasil. Hanya saja saya berpikir bahwa proses itu tidak pernah berbohong, sedangkan hasil sangat licik. Seseorang bisa menunjukkan pada Anda grafik percepatan pembangunan ekonomi Indonesia kuartal I tahun 2015 misalnya. Lalu secara bersamaan menunjukkan kepada Anda grafik naiknya kecepatan angin di Indonesia pada kuartal yang sama. Kemudian mengatakan bahwa dua grafik tersebut terjadi pada waktu yang bersamaan dan memilki bentuk yang sangat mirip. Maka kesimpulannya percepatan ekonomi Indonesia kuartal I 2015 disebabkan oleh angin. Tentu hal ini sangat tidak masuk akal, tapi kita sering “ditipu” dengan hasil sebagaian seperti ini. Hasil sebagaian maksud saya adalah hasil tanpa proses. Kita mengerti hasilnya namun sama sekali buta tentang prosesnya. Mungkin prosesnya yang disembunyikan atau bisa saja sampelnya yang terlalu kecil. Tentu ketika kita melihat grafik angin dan percepatan ekonomi pada rentang 100 tahun dengan lingkup seluruh dunia kita tidak akan menemukan korelasi apapun.

Apakah ada korelasi naiknya Jokowi sebagai prsiden Indonesia dengan melemahnya kurs rupiah. Tentu jika hanya melihat hasil kita akan sampai pada kesimpulan “Jokowi membuat nilai rupiah melemah karena Ia tidak kompeten sebagai Presiden”. Ironisnya ini adalah lagu yang sering dinyanyikan media-media besar tanah air. Saya tidak mengatakan sebaliknya, namun untuk menilai fenomena tersebut kita harus memahami kompleksnya geo-ekonomi-politik dunia. Serta sejarah paket kebijakan yang pernah dikeluarkan langsung oleh eksekutif negara ini. Bukan hanya karena Jokowi sebagai presiden dan melemahnya rupiah terjadi pada periode yang sama. Walau tentu para pakar politik akan menilai keberhasilan seorang Jokowi memimpin negri ini lewat indikator-indikator seperti nilai rupiah, pertumbuhan ekonomi, ketahanan nasional, dan sebagainya. Lagi-lagi kita sangat mudah mengukur hasil, mengesampingkan variabel yang terlalu rumit, melupakan proses.

Tapi kita adalah manusia yang arif bijaksana. Dibekali dengan akal yang tidak dimiliki mahluk Allah lainnya. Kita bukan monyet yang keberhasilannya dalam pasar saham hanyalah sebentuk “kebetulan”. Kita adalah hasil dari sebuah proses yang Maha Sempurna.

Yang Diinginkan setiap Manusia #BisaBanget

Apakah uang bisa membeli kebahagiaan? Saya rasa hampir semua orang akan berkata tidak. Uang tidak dapat membeli kebahagiaan, uang dapat membeli semua material yang terlihat di dunia. “For I don’t care too much for money, for money can’t buy me love.” -The Beatles

Namun bagaimana dengan video berikut ini.

 

Jika kita yang berada dalam posisi sulit seperti para pedagang dalam video tersebut, saya rasa kita juga akan merasakan kebahagaiaan. Jelas bahwa uang membeli kebahagiaan dalam video tersebut. Dijelaskan di akhir video bahwa memang yang terjadi adalah kebahagian dihasilkan lewat berbagi, karena orang yang memberi dalam video tersebut merasa bahagia. Kita yang menonton pun merasa bahagia. Lalu apa yang sebenarnya terjadi pada para pedagan yang diberi uang? Benarkah uang telah membeli kebahagiaan mereka? Untuk memperjelas hal ini kita perlu mengamati lebih dalam apa yang sedang terjadi. Kenapa para pedagang tersebut bahagia? Karena mereka mendapatkan uang? Bukankah mereka mendapatkan uang setiap hari? Mereka adalah pedagang yang mendapatkan uang dari transaksi. Jelas berbeda antara uang yang mereka dapatkan dari transaksi perdagangan dengan uang yang mereka dapatkan secara “gratis” pada video tersebut. Perbedaan inilah yang menentukan kebahagiaan. Apa perbedaannya? Karena uang yang mereka dapatkan dari video tersebut berada di atas harapan mereka.

Satu tahun yang lalu pada sebuah kesempatan saya pernah membahas fenomena kebahagaiaan ini secara intensif. Mengapa seseorang yang memilki kondisi material(kekayaan, keluarga, tempat tinggal) yang sama bisa memiliki kondisi kebahagiaan yang berbeda? Mengapa ada konglomerat yang tidak bahagia? Mengapa ada pedagang kecil yang bahagia? Di tengah pertanyaan-pertanyaan itu saya tersadar bahwa kebahagiaan bukanlah kondisi awal. Kebahagiaan adalah akibat dari perbuatan yang lain, perbuatan ini bernama syukur.

Sebelum pertanyaan itu muncul dalam benak saya, saya selalu mengira bahwa kebahagianlah yang membuat kita beryukur. Tapi saya rasa hal tersebut keliru. Kita tidak bisa memaksakan perasaan bahagia muncul dengan sedirinya. Jika saya katakan pada anda, “cobalah untuk berbahagia satu menit kedepan.” Apa yang akan anda lakukan? Pertama mungkin anda akan bingung karena sulit sekali mencari alasan untuk bahagia. Benar, “Alasan” adalah kuncinya. Harus ada alasan untuk kita bisa merasakan bahagia. Bahagia tidak bisa muncul dengan sedirinya. Namun jika saya “paksa” anda untuk mencari alasan tersebut, apa yang akan anda lakukan? Saya akan mengingat apa yang saya miliki, orangtua, kasih sayang, nikmat hidup, dan lain-lain. Saya akan memulai sebuah proses mensyukuri. Saya jamin tidak ada yang bisa membuat anda merasaka bahagia secara instan tanpa ada faktor luar apapun selain bersyukur. Jika sejak awal saya paksa anda untuk bersyukur, bahagia saya jamin akan datang sesudahnya, jika tidak bersamanya. Maka yang terjadi pada video tersebut adalah rasa syukur.

Lalu apa yang terjadi pada orang-orang yang memberi kepada orang lain kemudian mereka bahagia? Saya tidak menyangkal hal tersebut sebab mereka juga mendapatkan rasa bahagia dari syukur. Rasakan dalam perasaan kita, apa yang sebenarnya terjadi ketika kita memberi kepada orang lain? Perasaan syukur, karena kita punya sesuatu untuk diberi. Syukur karena hidup kita bisa berarti. Syukur karena Allah telah menciptakan kita dengan segala kelebihan. Syukur karena kita ada. Pemahaman ini berlangsung secara cepat dalam skala satu per seribu detik menjadi tabuhan rasa yang bernama bahagia.

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. An Nahl: 18)
Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)”. (Qs. Adh Dhuha: 11)

Nikmat membuat kita bersyukur, syukur mendatangkan nikmat berupa rasa bahagia. Apa yang diinginkan setiap manusia? Kebahagiaan. Apa yang bisa dimiliki oleh setiap manusia? Kebahagiaan. Apa yang jika diberi tidak akan berkurang tapi justru bertambah? Kebahagiaan. Apa yang tidak bisa diambil dari setiap manusia? Kebahagiaan.

Saya sangat mendukung pesan video tersebut. Menciptakan masyarakat yang selalu bahagia adalah soal menciptakan masyarakat yang selalu bersyukur. Menciptakan masyarakat yang selalu bersyukur adalah soal menciptakan masyarakat yang selalu mendapatkan hal di atas yang ia harapkan, artinya adalah menciptakan masyarakat yang selalu merasa diberi. Masyarakat yang selalu memberi. Berpikir tentang hal ini berarti berpikir bahwa hidup setiap manusia adalah kisah tentang memberi, agar mereka bersyukur, agar mereka bahagia. Kenapa tidak, mulai deti ini, kita bisa, #BisaBanget.